Kali ini mari berbicara tentang cinta, di postingan kedua ini akan saya coba urai bagaimana cinta itu, tentunya masih dalam perspective diri yang fanatic terhadap ide-ide sesat dan cacat *kata-kata yang sedang ngetrend dikaum ABABIL*. Serta tendensi pikir kearah liberalis laknat *according to some hardcore fundamentalist*, well that me, just me.
Kalaulah tentang kisah yang lumrah, normal dan biasa, semua pasti sudah mahfum dan pasrah dengan lika-likunya yang INDAH, tapi bagaimana halnya jika kita coba menengok pada beberapa kisah yang berada pada area “remang-remang” atau bahkan yang absurb sekalian. Para pelaku yang konsisten menjalani lakon di dunia “terang” acapkali memberikan cibiran, hujatan atau bahkan yang paling ekstrim adalah tindakan destruktiv mengatasnamakan kebenaran ideology-ideology tertentu. Intinya adalah, instead of understanding dan menemukan wise solution justru HATE yang diberikan....at this point, life is suck.
Kisah satu, antara Carman (Sukarman) dan Carmen (Sukarmini), ini adalah tentang cinta terlarang tentang seorang janda versus tukang sayur yang sudah beranak bini. Seantero kampung tak pernah henti untuk selalu membicarakan kisah Carman dan Carmen, kalaulah ada argo atau counter machine untuk mengkalkulasi kata cibiran-gunjingan, barangkali bakal rusak sekejap alat tersebut karena overload menampung aliran input data cibiran warga sekampung. Janda perusak rumah tangga orang!, predikat kehormatan bagi Carmen, sedangkan Carman, lelaki bimbang yang tak mampu setia.
Yaa! pelabelan adalah hal termudah yang mampu dilakukan oleh manusia, entah untuk menyederhanakan kondisi atau menciptakan trauma psikologis dengan efek-efek biadab tertentu. Pelabelan lebih mudah dilakukan daripada menelaah lebih rinci bagaimana kisah dibalik kisah tersebut terjadi. Sedikit orang yang mau memahami dan tahu, bagaimana beratnya Carmen menjalani hidup sebagai single parent untuk dua orang anaknya belum lagi dengan perdikat janda yang sampe mampus akan ia sandang selalu layaknya gelak Master of Science di belakang nama para sarjanawan ulung. Carman, tukang sayur yang mati-matian menerjang kerasnya hidup untuk menghidupi anak istrinya dengan menggantungkan peruntungan dari transaksi sayuran yang ia jajakan. Life is damn hard for them already!, soal cinta...it just happen that way, could be at anyone. Carman memang menjalin hubungan terlarang dengan Carmen, akan tetapi ini tidak berarti dia serta merta melupakan cintanya pada isti serta anaknya yang dirumah...well people, itu hanya bentuk lain polygamy, it is fine okay.
Kisah kedua, antara Boy dan tante Sherly, Boy adalah brondong yang setengah mampus jatuh cinta kepada tante Sherly... yang berikut ini adalah tentang Oedipus Complex, and as always, people keep judging on them and blame, untuk ketidakpatutan atas jeda umur mereka berdua, it is 22 versus 35. Sebenarnya apa yang salah dengan umur, bukankah semua itu hanya angka...?, people just forgot that love is love, bisa terjadi pada rentang usia berapapun, selama tidak ada pemaksaan dari salah satu pihak dan tidak MERUGIKAN di kedua belah pihak, just go!. Keluarga Boy menentang, malu atas nama keluarga dan Trah, tidak patut. Mungkin mereka akan benar benar tahu rasa malu saat Boy terjaring razia sedang bersama tante Sherly di losmen ecek-ecek kelas teri, karena tak adanya restu keluarga dan nafsu merindu yang tertahan-tahan. Untuk tante Sherly tentu saja, hal terburuk sudah bisa dipastikan...she’s doom, her world collapse. Berharap cinta justru petaka yang menyapa.
Kisah ketiga, antara Bruno dan Joseph, ini adalah tentang cinta pada gender yang sama. Salah, suatu kesalahan yang absolute, bahkan Tuhan pun melaknat kota tempat tinggal para pioneer praktisi cinta ini, tapi apakah benar Tuhan melaknat Soddom dan Gommora karena cinta terlarang mereka? ataukah karena perilaku kebinatangan para penduduknya yang memperkosa dan merampok para pelalu lalang yang melintasi kota mereka? Siapa yang tahu pasti akan hal ini? “none”. Bruno hampir gila acapkali menyadari ia mencintai Joseph dan bukannya Josephina, ia bingung bagaimana dengan reaksi keluarganya, bagaimana teman-temannya. Joseph pun tak kalah gila, ia desperate dengan konflik pribadi yang dia hadapi, tuntutan masyarakat, peran profesinya dan sekali lagi CINTA yang tak mampu ia pungkiri. Bruno dan Joseph terlanda kacau saat mereka sadar, seharusnya lubang yang mereka cinta, akan tetapi kenapa justru batang yang mereka suka?
Tiga diatas tidak mampu mewakili jutaan variasi kisah “seram” dunia cinta. Love is blind, cinta itu buta, sebuta gelombang tsunami yang akan menerjang setiap jengkal tempat dibibir pantai. Kecuali puncak gunung yang pasti terbebas dari hempasan gelombang mahadahsyat ini, but the fact, dari jaman prasejarah hingga masakini, peradaban manusia tak pernah menjauh pada area bibir pantai....kenapa? karena di bibir pantailah perpaduan antara daratan dan lautan berada, tempat air dan tanah menyatu, ladang, sawah dan tambak terhampar. Kehidupan menjadi dinamis dengan perpaduan berbagai perbedaan....dan, gelombang akan terus menerpa bibir pantai, entah tsunami atau riak riak kecil dianak selokan....karena itulah hidup dan kehidupan.
Sayang .... Cinta Itu Buta !!
Comments
Post a Comment